Minggu, 17 Desember 2017

Pendengaran Adalah Kunci



Suka - Duka menjadi Muadzin Krapyak
Mencoba merasa dekat dengan Tuhan adalah impian semua orang beriman. Jangankan hanya ingin dekat, memanggil Tuhan dalam adzan pun, terkadang diidam-idamkan. Bahkan saing-saingan.
Tapi ini bukan soal bersenandung enak di bawah lindungan payung Adzan. Sama sekali bukan. Ini persoalan penghargaan terhadap hak publik. Kalau soal ber-adzan saja, anak kecil juga bisa.
Ada perbedaan jelas ketika kita mencoba adzan sendiri dalam kamar misalnya, dengan mengumandangkan adzan di Masjid. Sama-sama mengumandangkan adzan, tapi yang satu di ranah privat sedangkan satu yang lain di ranah publik. Otomatis pertimbangan-pertimbangan publiklah yang fardhu terlebih dahulu harus diselesaikan. Jadi sebelum Anda Adzan, mbok dikiro-kiro, apakah Adzan Anda sudah enak dan pantas didengarkan khalayak. Tidak langsung nyelonong nyalain microphone dan adzan. Kecuali, kalau tidak terpaksa juga, misal sudah menanti lama tapi muadzin belum datang-datang.
Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak  mendengar, barang sekali pun. Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula. Orang yang berbicara lebih dari lima meter, sedikit banyak akan kita dengar. Bahkan dalam kondisi tidur pun, telinga masih bisa berfungsi. Lain dengan mata dan mulut yang bisa ditahan dan atau dibatasi fungsinya dengan menutup. Karenanya kita diadzani di telinga sebelah kanan dan diiqomahi di sebelah kiri.
Pun tatkala bagaimana kita sensitif lantas agresif dengan omongan orang, itu sebab kita mendengarkan. Pendengaran adalah kunci. Agresifitas kita itu bukan semata karena mereka yang berbicara. Melainkan kita yang benar-benar tidak bisa menahan telinga untuk tidak mendengar.
Sejalan dengan itu, di Krapyak ada hal yang sedemikian menarik, yang telah ada dan hampir pasti dilakukan, yaitu sikap ketidakseganan bila ada santri adzan di Masjid pusat atau di sekitaran komplek pesantren Krapyak yang kebetulan terdengar kurang nyaman di telinga, lantas adzan yang terdengar seketika itu pula banjir reaksi dengan berkoar-koar, “Mudun Kang! Mudun!”, “Suoromu Elek Kang!”, “Jo Baleni Maneh Kang!”, “Adzan nang Masjid liyo wae Kang!”, bahkan sindiran “Adzano maneh Kang! Adzanmu enak dewe!”. Kecaman ini mencuat sebab publik merasa haknya untuk mendengar keindahan telah dirampas. Sebenarnya saya dulu sempat shok dan gumun, "ini ada orang adzan kok malah dibalas kek gini. Mending dia, mau adzan meskipun ya kayak begitu suaranya. Daripada kalian yang hanya sanggup berkoar-koar", geremangku dulu pas awal lihat kek gituan.
Jelas lain cerita jika adzannya bagus dan enak. Umpatan-umpatan "macam mencegah kedholiman" seperti itu, mustahil terdengar (Sebentar, ini bukan soal umpatannya. Tetapi soal reaksi mencegah kedhaliman). Berganti dengan suasana yang tenang, adem ayem toto rahardjo. Bahkan, sekarang ini tidak sedikit pula, santriwati-santriwati yang kagum, hingga menjadikan adzannya sebagai story di WA ataupun Instagram. Eh. Dan tidak jarang pula, adzan itu mengantarkannya pada tangga ketenaran dan fans yang melimpah ruah, seperti yang dialami teman sekamarku yang rempong ngurusi para fans-nya.  
Pernah suatu ketika, dikala Mbah Zainal Abidin Munawwir masih sugeng, ada santri adzan di Masjid Krapyak, ketika adzan, ekspresi dia terlihat tenang, santai dan menjiwai. Di luar itu, para santri yang kebetulan kompleknya berada di sekeliling masjid, berkoar-koar kurang bersahabat. Kemudian, semua itu berubah ketika ada seorang santri yang menghampirinya tatkala ia selesai adzan, dan berbicara dengan lirih,
“Kang, sampean dipadosi Mbah Zainal. Ken rawuh ten ndalem. Sakniki.”. 
Sontak dia kaget. Ekspresinya berubah antara bingung dan sumringah.
“Wah, tumben-tumben Mbah Zainal manggil saya. Jangan-jangan mau….”
Setelah menuruti apa kata santri itu, muadzin tadi beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ndalem Mbah Zainal, yang tempatnya bersebelahan dengan Masjid. Tak disangka-sangka, sekembalinya dari ndalem, wajah muadzin itu sangat lusuh, pucat dan diam seribu bahasa.
Usut punya usut, ternyata Mbah Zainal tidak menghendaki dia untuk adzan di Masjid Krapyak lagi. Alasan Mbah Zainal kurang menghendaki adalah pertama, kurang sepaham dengan makhrojnya, kedua, kualitas suaranya tidak untuk konsumsi umum. Ya bagaimana lagi, mafhum mukholafahnya demikian, adzan merupakan panggilan salat. Jika panggilan menyerukan sembahyang tersebut kurang menarik perhatian, jangan salahkan bila masyarakatnya pun enggan menerima panggilan tersebut. Masjid pun menjadi sepi. Nah, dari sini persoalan adzan pun, harus memafhumi publik.
Belajar dari peristiwa itu, istri Mbah Zainal yakni Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal melakukan semacam pen-taskhih-an bagi para muadzin-muadzin di Masjid Krapyak hingga saat ini. Semacam tes untuk bisa menjadi muadzin tetap di Krapyak. Diam-diam, musabab ini pula yang membuat saya menghindar untuk mengumandangkan Adzan di Masjid Krapyak lagi. Saya menyadari, ternyata ora gampang lur dadi muadzin Krapyak iku.  
----
Telinga itu sendiri, menurut saya, adalah kristal literatur Islam yang membedakannya dengan keilmuan barat yang berdasar hanya dengan panca indera. Kita sering membaca riwayat hadis dengan redaksi “saya mendengarkan dari”, “saya mendengarkan begini”, dan semacam itu. Bahkan hampir keseluruhan hadis itu diriwayatkan dari hasil “mendengarkan”. Al-Qur’an juga mendahulukan “pendengaran” daripada “penglihatan” (QS.2:07,20, QS.6:46, QS. 10:31, QS. 16:108, QS. 19:38, QS. 45:23). Mungkin, barangkali tradisi lisan sempat disepelekan oleh Barat, akan tetapi, faktanya tradisi lisan telah melahirkan peradaban yang unggul bagi masing-masing peralihan peradaban. Penonjolan atas kekuatan pendengaran dalam tradisi keilmuan Islam merupakan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an.  




Ber-Surgalah



Ahad, 28 Mei 2017. “sabtu bersama bapak”



Kita adalah takdir, dimana Tuhan merencanakan segalanya. Kita tak perlu tahu apa takdir Tuhan untuk kita. Tapi kita harus berusaha menjalankan bagian dari takdir itu. Bumi dan segala hal yang di dalamnya adalah milik Tuhan semesta alam. Dunia tak akan berubah jika kita hanya diam tanpa usaha. Hal yang sederhana bila kita lakukan dengan baik, kelak akan dapat balasan baik pula. Cara berfikir, berkeluarga dan bermasyarakat merupakan bagian kisah hidup seluk beluk manusia. Ketika engkau melihat sebuah parit yang sewaktu-waktu akan mnejerembabkanmu, usaha lah dan buat rencana agar engkau terhindar. Di ciptakan dengan berbagai perbedaan, itu semua bukanlah beban yang harus setiap orang pikul. Perbedaan adalah cara kita menyelami arti dari persamaan.
Takdir tak ubahnya hanya sebagai hiasan dunia. Orang lemah yang tanpa usaha akan menjadikannya sebagai perisai, untuk menutup dirinya dari berbagai bentuk usaha. Malu rasanya bila kita termasuk bagian dari mereka. Kebutuhan untuk mencari jati diri, mencari arti hidup sejati, dan menggelengkan kepala ketika merasa lelah. Yakin lah bahwa usahamu tak akan sia-sia. Jangan bertindak sebagai orang suka yang merayu tanpa mengedepankan tanggungjawab atas rayuan tadi. Memilih jalan berliku berarti seseorang itu siap untuk berbagai cobaan dan terpaan. Sadar atau tidak, kita hidup di dunia hanya untuk mencari keridhaan-Nya.
Ridha serta takdir Tuhan, mengisahkan betapa mulianya seorang ibu. Ia bukan seperti wanita kebanyakan. Ibu adalah perantaraan dan perwujudan dimana ridha Tuhan berada. Al jannatu tahta aqdamil ummahat, “surga terletak di bawah kaki Ibu”. Tuhan bukan bermaksud menaruh surga itu pada bagian rendah, tetapi Tuhan mengajari kita untuk selalu merendah jika menginginkan surga, apalagi di depan orang tua kita sendiri. Mencari keberkahan serta mencari ridha seorang ibu adalah hal yang mutlak bagi seorang anak. Memantaskan diri di depan Tuhanmu seraya berkata, “Wahai Tuhan apakah hamba sudah berbakti pada orang tuaku, terlebih pada Ibu”.


Oleh: Brew as Amirsyarif

AKU TERBANGUN DI SEPERTIGA MALAM


Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.
Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambal menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan.
Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja
Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak ? sedang orangtuaku di rumah hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana.
Bapak mati-matian banting tulang, mencari uang halal, demi sebuah gelar "Sarjana" yang akan disandang oleh anaknya nanti.
Dan Ibu yang memikirkan bagaimana kuliahku, apakah kondisiku baik-baik saja, apakah aku telat makan, apakah aku dapat berteman dengan baik, apakah dosenku menyukaiku—
Dan masih banyak lagi.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.
Aku menunduk. Memejamkan mataku, dan membiarkan air mata mengalir deras di baju yang aku kenakan.
Betapa dosanya aku jika saat menelepon orangtuaku dan hanya keluhan yang aku keluarkan,
"Bu, aku sakit."
"Pak, uang aku habis."
Betapa dosanya aku jika saat orangtua meneleponku malah kuberi jawaban menyakitkan,
"Nanti lagi teleponnya, Bu. Tugasku masih banyak."
Ibu ngapain telepon? Aku masih ngerjain tugas."
Betapa dosanya aku jika aku sampai lupa menanyakan kabar orangtuaku karena kesibukanku di dunia perkuliahan,
Betapa dosanya aku jika tidak merasakan rindu kasih orangtua jika mereka tidak meneleponku selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan?

Segitu tidak peka kah aku kalau mereka sedang rindu?
Segitu tidak peka kah aku kalau mereka ingin mendengar suaraku?
Segitu tidak peka kah aku—

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.
Kubiarkan air mataku bercucuran membanjiri selimut tidurku,
Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya menghabiskan waktu untuk tidur di kamar. Merasakan kembali hangatnya kasur sendiri, merasakan kembali tidur tenang selama seharian.
Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya untuk bermain bersama teman lamaku, teman SMA, SMP, bahkan SD.
Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak membawa kabar baik untuk orangtua.
Aku salah, Bu, Pak. Jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak bersalaman dengan kalian, mencium pipi kalian, memeluk kalian, lalu mengobrol hangat, bertukar cerita dengan kalian.

Bu, Pak. Anakmu ini sedang berjuang. Aku mungkin tidak sepintar teman-temanku yang lain, aku juga tidak lebih rajin dari mereka, apalagi soal organisasi—aku masih sering bingung membagi waktuku untuk mengaji, kuliah, organisasi dan mengerjakan tugas kuliah.

Tapi...
Bu, Pak. Percayalah, anakmu ini akan selalu memberikan yang terbaik disetiap detik, menit, dan jam yang terlewati.
Aku tidak menjanjikan bahwa aku lulus dengan gelar mahasiswa terbaik. Aku tidak menjanjikan besarnya indeks prestasi kumulatif yang kudapat. Aku tidak menjanjikan sertifikat-sertifikat juara yang kuterima, atau sertifikat-sertifikat organisasi yang kuikuti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan memberikan yang terbaik. Hanya untuk kalian.
Kan kupersembahkan gelar Sarjanaku untuk kalian.
Dari aku yang hidup di perantauan.

By: ikhwan din

Review Buku Pengetahuan: Ibn Ajurrum wa Afkaruhu fi Ta'limi al Nahwi dan Ringkasan Nahwu Sharaf

REVIEW BUKU PENGETAHUAN Oleh : Ikhwandin   PENDAHULUAN A.     IDENTITAS BUKU Buku Satu Judul buku              ...